25 September 2015

Pengertian Konsep dan Dasar Komunikasi Antar Budaya

Pengertian Konsep dan Dasar Komunikasi Antar Budaya - Topik untuk penulisan skripsi sangat dipengaruhi oleh minat mahasiswa. Minat tentu saja berkaitan dengan latar belakang pekerjaan maupun latar belakang pendidikan yang sedang ditempuh. Dalam riset Public Relations ini, mahasiswa haruslah melihat bahwa konteks topik tidak boleh keluar dari kerangka ilmu komunikasi dan peminatan Broadcasting.

Pengertian Konsep dan Dasar Komunikasi Antar Budaya_
image source: bharathivarsha1210.wordpress.com

Untuk memudahkan dalam memilih topik, mahasiswa diminta kembali melihat kepada komponen komunikasi yang sudah dipelajari di mata kuliah dasar dahulu, dimana komponen komunikasi meliputi:
  • Level komunikator, analisis sumber. 
  • Level pesan / isi pesan, meliputi isi pesan yang disampaikan oleh komunikator (pesan – pesan media) baik yang dilakukan secara kuantitatif (analisis isi), maupun kualitatif (analisis framing, analisis wacana, analisis gender dsb).
  • Level media, meliputi strategi redaksi/program/produksi, manajemen media.
  • Level komunikan, meliputi analisa khalayak yang meliputi respon, opini, persepsi dsb.
  • Level dampak, meliputi efek atau dampak dari isi pesan media ataupun strategi pemberitaan/tayangan/program yang berupa tingkat pemahaman, persepsi ataupun perubahan perilaku, diterima dan munculnya opini positif terhadap isi pesan dan / atau media. 

Pada intinya proses pertama dalam penulisan penelitian ini, perlu dicermati beberapa hal yang meliputi:
  • Bahwa topik penelitian harus penting (significance of topic)
  • Bahwa topik penelitian harus menarik perhatian peneliti (interesting topic)
  • Bahwa topik penelitian harus didukung oleh data atau dengan kata lain untuk topik tersebut tersedia datanya (obtainable data)
  • Bahwa topik penelitian harus dapat dilaksanakan dalam arti sebatas kemampuan penelitian (manageable topic)

Selain itu sebelum melakukan proses penelitian, harus diketahui dulu unsur-unsur yang akan dicerminkan dalam rumusan penelitiannya yaitu:
  • Problematika penelitian yang akan dicari jawabannya
  • Populasi atau subjek penelitian dimana dapat diperoleh data yang dimaksud
  • Wilayah penelitian tempat subjek penelitian berada
  • Waktu penelitian dilangsungkan

Menentukan Topik Yang Relevan

Sekali ide dasar riset telah dipilih atau ditetapkan, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa tapoik tersebut layak untuk diteliti. Tahap ini dapat diselesaikan dengan menjawab delapan pertanyaan mendasar.

Pertanyaan 1 : Apakah Topik Tersebut Terlalu Luas?

Kebanyakan riset menkonsentrasikan pada satu bidang kajian yang sempit; tidak banayk riset yang dilakukan untuk menganalisis semua bidang studi/kajian. Ada satu tendensi, mengapa seorang peneliti harus melakukan penelitian dengan tepa yang luas – sebagai contoh “efek televisi pada anak-anak,” atau “ efek informasi dari media masa terhadap pemilih dalam Pemilu.”

Untuk menghindari masalah ini, peneliti biasanya menguraikan masalah-masalah yang akan diteliti dengan tujuan untuk memilah dan memilih topic menjadi pertanyaan-pertanyaan yang sempit.

Pertanyaan 2 : Apakah masalah Tersebut Benar-Benar Dapat Diinvestigasi?

Masih ada hubungannya dengan keluasan topic, sebuah topic boleh jadi tidak dapat diinvestigasi secara sederhana karena pertanyaan yang diajukan tidak memiliki jawaban, atau tidak dapat dijawab dengan menggunakan fasilitas dan informasi yang tersedia. Sebagai contoh, bagi peneliti yang ingin mengetahui Bagaimana orang-orang yang tidak memiliki televise bereaksi terhadap situasi komunikasi antar pribadi sehari-hari harus mempertimbangkan masalah dalam menemukan subyek yang benar-benar tidak memiliki pesawat televisi di rumahnya.

Pertanyaan 3 : Apakah Data Rentan ?/ Mudah Untuk Dianalisis?

Sebuah topik tidak dapat memberikan dengan sendirinya apa yang diinginkan, jika data yang didapat tidak dapat diukuk tingkat keterpercayaan (realibility) dan kesahihannya (validity). Dengan kata lain, seorang peneliti yang akan mengukur efek tidak menonton televisi harus mempertimbangkan apakah informasi tentang perilaku subyek akan memadai dan dapat dipercaya, apakah si subyek akan mejawab dengan jujur.

Pertanyaan 4 : Apakah Masalah Tersebut Signifikan/Bermanfaat?

Sebelum riset dilaksanakan, peneliti harus menentukan, apakah topic tersebut telah layak, artinya apakah hasil penelitian tersebut memiliki nilai baik secara praktis maupun teoritis.

Pertanyaan 5 : Apakah Hasil Penelitian Dapat Digeneralisasikan?

Untuk memastikan bahwa riset yang dilakukan mempunyai nilai secara praktis – significan dengan analisis yang telah dilakukan – ia harus memiliki validitas eksternal; artinya, ia harus dapat digeneralisasikan dari satu situasi ke situasi yang lain. Sebagai contoh, penelitian mengenai efek dari kampanye PR di salah satu kota kecil, boleh jadi sesuai apabila diaplikasikan untuk kota kecil lainnya; atau meskipun kajian yang dilakukan memanglah tidak untuk digeneralisasikan, tetapi setidaknya riset tersebut memiliki eksternal validitas.

Pertanyaa 6 : Berapa Besar Biaya dan Waktu Yang Diperlukan?

Kedua hal tersebut kebanyakan menentukan apakah suatu riset mungkin dilakukan. Meskipun ide atau gagasan penelitian sangat cemerlang, namun jika biaya dan waktu yang diperlukan tidak memungkinkan, maka penelitian tersebut juga tidak memungkinkan dilakukan.

Pertanyaan 7 : Apakah Pendekatan Yang Direncanakan Sesuai Dengan Penelitian Yang akan Dilakukan?

Meskipun ide riset sangat cemerlang, namun perencanaan metode yang buruk dapat menjadi halangan. Misalnya, seorang peneliti akan mengukur perubahan atas penonton bioskop yang saat ini telah dipengaruhi oleh tayangan televisi di suatu kota dengan menyebarkan kuesioner ke sejumlah besar orang dengan menggunakan kuesioner yang dikirim melalui pos. Tentunya biaya pencetakan kuesioner dan pengiriman akan besar, belum lagi jika kita harus mem-follow up hasil kuesioner tersebut.

Pertanyaan 8 : Adakah Potensi Yang Membahayakan Pada Subyek Penelitian

Peneliti haruslah secara hati-hati menganalisa apakah penelitian yang dilakukan dapat “mengancam” subyek baik dari segi fisik maupun psikologis. Misalnya, apakah responden akan merasa ketakukan setelah menjawab pertanyaan? Apakah mereka harus menjawab pertanyaan yang dapat membuat mereka malu? Adfakah efek lanjutan dari hasil riset yang dilakukan? Pastikan hal-hal tersebut diantisipasi dan dipertimbangkan sebelum menentukan satu topik penelitian.

Proses Penelitian Ilmiah

Perbedaan esensial posisi teori dalam penelitian kuantitatif atau kualitatif, bahwa dalam penelitian kualitatif teori atau konsep digunakan untuk memahami gejala yang diteliti-untuk memahami latar penelitian-memahami setting penelitian dst. Sedangkan dalam penelitian kuantitatif setelah jelas obyek yang diteliti, pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian dan alur berfikir peneliti (gagasan), tahap pertama; carilah landasan teori yang sesuai, yang dapat digunakan untuk mendekati masalah yang diteliti (konseptualisasi). Sedangkan teori yang digunakan berangkat dari teori yang general/umum (grand theory), Midle range theori sampai operational theory. Tanpa kejelasan teori yang digunakan dan pemahaman isi teori digambarkan Prof. Sugiyono seperti orang buta bercerita tentang gajah, dipegang rata disangkanya tembok atau mengutip gambaran Prof. Yosy Adiwisastra, seperti pawang ular bercerita tentang gajah, dipegang panjang disangkanya ular, padahal ...ekor gajah.

Dalam penelitian kuantitatif pertanyaan-pertanyaan penelitian-apa yang diteliti atau apanya yang diteliti alih-alih menanyakan apa variabel dalam penelitian tersebut. Sedangkan variabel berdasar pada hipotesis penelitian. Hasil proses deduksi teori atas gejala yang diteliti merupakan hipotesis penelitian, yang mana hipotesis tersebut memberi informasi dan gambaran tentang apa variabel-variabel penelitiannya dan bagaimana hubungan antar variabel, sebagai representasi atas gejala dan hubungan antar gejala yang diteliti.

Sedangkan variabel merupakan konstruk yang memiliki variasi nilai, konstruk yang sifat-sifatnya telah diberi nilai, sedangkan Konstruk adalah konsep yang telah dibatasi pengertiannya (unsur-unsurnya, ciri-cirinya, sifat-sifatnya) sehingga dapat diamati dan dapat diukur. Konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan mengenaralisasikan hal-hal yang khusus (Kerlinger, 1971:28). Konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok, atau individu tertentu (Effendi, 1989:34). Proposisi adalah hubungan yang logis antara dua konsep atau lebih. Sedangkan Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep ( Kerlinger, 1973 :3).

Dengan demikian pada hakekatnya variabel dapat diturunkan dari teori yang didalamnya terdiri dari beberapa konsep, yang mana konsep-konsep tersebut masih abstrak, sehingga perlu dibatasi pengertiannya sesuai dengan obyek yang diteliti sehingga menjadi konstruk. Proses menginterpretasikan dan mengunakan konsep yang abstrak menjadi konstruk dalam mendekati masalah penelitian disebut dengan operasionalisasi konsep. Supaya dapat digunakan untuk meneliti opersionalisasi konsep tersebut diikuti dengan pengukuran (measurement) sehingga menjadi variabel, sedangkan operasionalisasi variabel dapat diterjemahkan sebagai gambaran hubungan antar variabel, yang nantinya digunakan sebagai dasar pengujian hipotesis. Dengan demikian melalui deduksi teori (deduksi logis teori) yang masih abstrak dirumuskan menjadi hipotesis penelitian sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, dengan demikian telah memasuki tahap kedua proses penelitian.