25 September 2015

Teknik dan Tipe Pengambilan Sampel Non Probability & Probability

Teknik dan Tipe Pengambilan Sampel Non Probability & Probability - Teknik Non probability sampling harus dihindari bila kita akan mendeskripsikan sebuah publik, dimana sebuah sampel representatif digunakan. Teknik ini sangat berguna dalam riset eksploratori dimana praktisi melakukan sebelum launching sebuah studi. Sampel non probability adalah satu dimana kemungkinan penyeleksian elemen sampel tidak diketahui. Ketidaktahuan kerepresentatifan sampel dan kualitas yang rendah pada klaim pengetahuan tentang populasi adalah kelemahan dari teknik pengambilan sampel non probability. Dengan kata lain, sampel yang baru saja dideskripsikan dengan mudah dan mudah didapatkan. Membutuhkan sedikit usaha, tidak mahal, cepat didesain. 

Teknik dan Tipe Pengambilan Sampel Non Probability & Probability_
image source: jrlawoffice.com

Pengambilan Sampel Non Probability Secara Tepat

Sampel non probability berguna dalam mendeteksi permasalahan yang potensial, pendahuluan yang tepat pengambilan sampel dan riset, membantu langkah kegiatan riset dalam menilai permasalahan potensial secara tepat dan dapat dipercaya.

Kesalahan Pengambilan Sampel Non Probability

Penggunaan non probability sampel mendorong kesalahan diagnosa permasalahan PR dan ketidakpercayaan dan kesalahan penilaian dampak program. Kita harus menghindari pengambilan sampel non probability bila mengestimasi seluruh publik yang digunakan sample

Type-Type sSmpel Non Probability

Ada beberapa teknik pengambilan sampel non probability.

1. Convenience sampling (accidental sampling). Pengambilan sampel dengan cara menyeleksi beberapa orang sebagai elemen sampel. Kriteria yang digunakan untuk menyeleksi tersebut tidak dapat dijadikan sampel yang merepresentasikan kepentingan publik. Misalnya, teknik pengambilan sampel ini berguna untuk mengetahui opini publik, sebagai awal untuk melaksanakan riset tentang peningkatan tarif dasar- membuat survei lebih tepat.

2. Quota sampling. Praktisi menyeleksi beberapa orang, sampai mencapai quota tertentu, menggunakan spesifikasi target publik tertentu, kemudian elemen sampel diseleksi untuk memastikan bahwa sampel merefleksikan pendistribusian karakter dalam populasi. Dalam tiap kategori quota disebut sebuah stratum.

3. Dimensional sampling. Adalah perluasan dari quota sampling, dimana banyak kriteria quota atau strata dilibatkan. Umumnya, upaya ini digunakan untuk memastikan bahwa sedikitnya satu orang termasuk dalam sampel tiap kemungkinan kombinasi kriteria.

4. Snowball sampling adalah sebuah teknik non probability yang berguna bila kita hanya mengidentifikasi sedikit anggota dari target publik secara langsung, tapi anggota dari target publik nampaknya mengenal satu sama lain. Quisioner yang di poskan atau interview dilakukan bersama anggota publik yang telah diketahui. Responden diminta untuk menyebutkan nama orang lain yang mereka tahu yang juga merupakan anggota target publik. Dalam pencarian informasi tahap kedua, individu yang disebutkan oleh responden pertama dihubungi. Kemudian informasi yang didapatkan dari keduanya diorganisasikan.

5. Purposive sampling (judgemental sampling). Sampel purposive digunakan dalam tatacara dalam kebutuhan tertentu dari kegiatan riset. Sampel purposive tidak menggunakan single category atau multiple category quotas. Tetapi, praktisi menggunakan pemahaman mereka tentang informasi yang dibutuhkan dan populasi untuk membentuk sampel. Walter K. Lindenmann menggarisbawahi kegunaan dari purposive atau judgemental sampel dengan kesulitan untuk mendapatkan publik: “Sudah dapat diterima bila kita menginterview 75 CEO, tetapi karena tidak seorangpun dapat menemukan mereka dan tidak ada seorangpun berprofesi sebagai CEO. Statistikal margin kesalahan tidak mengaplikasikan tipe sampel. Apa yang terjadi adalah orang mencampur random sampel dengan purposive atau judgemental sampel. Judgemental sampel digunakan bila kita mentargetkan dalam orang-orang khusus untuk tujuan tertentu”.

Kelima sampel non probability yang dideskripsikan tersebut berguna untuk penilaian awal tentang pengetahuan, opini dan tingkah laku publik. Umumnya lebih cepat dan lebih murah dari pada teknik pengambilan sampel probability. Meskipun, sampel non probability kurang merepresentasikan populasi dimana praktisi mencari pemahaman. David Clavier, direktur eksekutif Husk Jenning Overmann PR, berargumen bahwa sampel non probability biasanya hanya dapat digunakan untuk mempelajari kesulitan untuk meraih publik. “Anda harus menerima sampel non representatif sebagai batas studi”. Kita tidak dapat membuat klaim pengetahuan tentang publik yang luas dalam penggunaan sampel non probability.

KEKUATAN PENGAMBILAN SAMPEL PROBABILITY

Sampel probability digunakan dalam beberapa cara dimana probabilitas diseleksi dalam pengambilan elemen sampel tertentu yang telah diketahui. Hal ini memungkinkan penggunaan alat statistik yang kuat untuk mengestimasi karakteristik dari semua publik didasarkan pada sampel yang relatif kecil.

KESIMPULAN STATISTIK DARI SAMPEL KE POPULASI

Apakah kesimpulan statistikal? Kesimpulan adalah suatu klaim pengetahuan tentang populasi didasarkan pada small probability sampel yang digunakan dari populasi. Sampel probabilitas memungkinkan estimasi yang baik, dimana sampel sangat luas untuk mencapai kebutuhan akurasi.

KESIMPULAN AKURASI DAN UKURAN SAMPEL

Sampel kecil menyediakan estimasi yang tidak dapat dipercaya dari target publik. Fakta penting dari besar kecilnya sampel:
  • Rata-rata nilai untuk semua sampel yang diambil bersama dengan tujuan untuk mengkonvergensikan nilai aktual dari target publik. Nilai aktual dari populasi disebut parameter. 
  • Cara statistikal ini memungkinkan kita untuk mengestimasi keakuratan sampel, didasarkan pada jumlah sampel. Persentage yang diperoleh dari banyak sampel dalam jumlah yang sama dari populasi yang sama akan membentuk sebuah bell-shaped curve disekitar parameter populasi sesungguhnya.

3. 95% dari semua sampel diambil dari populasi yang sama bersamaan sebuah range spesifik yang diketahui parameter populasi sesungguhnya. Range dapat dispesifikasi untuk tiap ukuran sampel. 95% menunjuk pada konvensi, sebuah angka yang merefleksikan level of confidence dimana hampir semua ilmuwan sosial mendasarkan klaim tentang populasi. Untuk menggunakan interval 95%, kita harus menerima apa yang terjadi ketika kita mengambil satu sampel dari populasi. Kita tidak pernah tahu bila satu sampel tersebut overestimate atau underestimate dari nilai populasi sesungguhnya.


Pendekatan, Metode, dan Tipe Penelitian Menurut Para Ahli

Pendekatan, Metode, dan Tipe Penelitian Menurut Para Ahli - Pendekatan penelitian meliputi pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Kedua pendekatan tersebut sangatlah mempengaruhi apa yang menjadi tipe dan metode penelitiannya. Pendekatan kualitatif dapat menggunakan tipe penelitian deskriptif dan eksploratif. Pendekatan kuantitatif bisa menggunakan tipe penelitian eksplanatif, deskriptif, prediktif dan evaluatif. Sedangkan metode yang dipergunakan meliputi analisa isi, survei, study kasus, analisa jaringan, audit komunikasi/humas, analisa wacana/semiotik, eksperimen, framing analisis serta metode lainnya yang muncul sebagai trend saat ini semacam fenomenologi, etnografi, dll. Namun metode tersebut untuk tahap S1 jarang dipergunakan, karena kerangka berpikirnya haruslah komprehensif.

Pendekatan, Metode, dan Tipe Penelitian Menurut Para Ahli_
image source: digitbuy.net

Metodologi Penelitian

1. Unit Analisis
Penelitian yang menggunakan siswa yang sifatnya umum sebagai unit analisis, dapat mengambil banyak subjek penelitian karena mereka cukup mengambil satu atau dua kelas siswa dari sesuatu sekolahan tanpa harus direpotkan mengunjungi banyak tempat. Berbeda dengan peneliti yang mengunakan sekolah khusus, mungkin hanya mengambil beberapa subjek penelitian saja karena subjeknya tergolong ‘langka’.

2. Pendekatan atau model penelitian
Penelitian yang sifatnya survei akan mengunakan subjek penelitian yang cukup banyak, sedangkan penelitian eksperimen, mungkin cukup menggunakan subjek penelitian sedikit saja.

3. Banyaknya karakteristik khusus yang ada pada populasi
Dalam menentukan besarnya sampel penelitian, peneliti mau tidak mau harus mencoba mengidentifikasi variasi ciri-ciri yang ada dalam populasi. Untuk memperjelas peryataan ini dapat kiranya disajikan contoh berbagai keadaan populasi dengan variasi.

Kelompok A, level I manajemen terdiri dari 40 orang, semua perempuan semua anak pegawai negeri. Kelompok B, level I produksi terdiri dari 40 orang perempuan dan laki-laki, semua anak pegawai negeri. Kelompok C, level I marketing terdiri dari 40 orang laki-laki dan perempuan, berasal dari keluarga petani, pedagang, anggota ABRI dan pegawai negeri.

Dari contoh ketiga kelompok tersebut, yang paling homogen keadaan subjek dalam populasi adalah kelompok A, disusul kelompok B, lalu kelompok C. Dalam pengambilan sampel, bagi kelompok A peneliti boleh mengambil beberapa orang saja. Sampel yang sedikit, sudah dapat dipandang mewakili semua karyawan satu level tersebut. Untuk kelompok B, sampel yang harus diambil dari wakil setiap jenis bagian kelompok, yaitu perempuan dan laki-laki. Selanjutnya untuk menentukan siapa yang akan dijadikan sampel dari kelompok C, peneliti harus mempertimbangkan bagian keluarga dari laki-laki dari berbagai keluarga dan perempuan, serta juga dari berbagai keluarga. Sekurang kurangnya harus ada wakil dari :
  • Karyawan laki-laki dari petani
  • Karyawan laki-laki dari pedagang
  • Karyawan laki-laki dari anggota ABRI
  • Karyawan laki-laki dari pegawai negeri
  • Karyawan laki-laki dari petani
  • Karyawan laki-laki dari pedagang
  • Karyawan perempuan dari anggota ABRI
  • Karyawan perempuan dari pegawai negeri 

4. Keterbatasan PenelitianDisebabkan karena tersedianya waktu, dana dan tenaga yang terbatas, mungkin saja peneliti terpaksa membatasi jumlah subyek penelitian yang diambil yakni melaksanakan penelitian sampel, yaitu menggunakan sebagai dari populasi sebagai subjek penelitian.

Berapakah besarnya sampel yang sebaiknya diambil dalam penelitian? Secara sederhana dapat dikatakan bahwa semakin besar sampel penelitian, hasil yang diperoleh akan menjadi semakin baik karena dalam sampel yang besar akan lebih tercermin gambaran hasil yang lebih nyata. Pada umumnya orang berpendapat bahwa tiga puluh subjek penelitian merupakan batas antara sampel kecil dan sampel besar. Tiga puluh atau kurang bisa dikatakan sebagai sampel kecil sedangkan lebih besar dari tiga puluh merupakan sampel besar.

Didalam menentukan sampel, peneliti hendaknya selalu ingat akan batasan pengertian tentang subyek penelitian, responden penelitian dan sumber data yang telah diterapkan pada bagian terdahulu. Apabila peneliti berpikir tentang teknik pengumpulan data, maka yang harus diperhatikan adalah pengertian responden. Jika mereka akan menggunakan angket, responden yang dapat diambil cukup banyak. Dalam pemikiran lain, jika penelitian akan menggunakan wawancara, tentu responden yang diambil tidak dapat banyak karena wawancara merupakan data yang dapat dikatakan ‘elit’ karena memerlukan banyak waktu dan tenaga. Demikian juga jika peneliti akan menggunakan teknik pengamanan. Untuk munggunakan teknik ini diperlukan keterampilan khusus bagi pelaksanaannya.

Ada beberapa rumus yang dapat digunakan oleh peneliti untuk menentukan jumlah anggota sampel. Sebagai ancer-ancer, jika peneliti mempunyai beberapa ratus subjek dalam populasi, mereka dapat menentukan kurang lebih 25-30 % dari jumlah subjek tersebut. Jika jumlah anggota subjek dalam populasi hanya meliputi antara 100 hingga 150 orang, dan dalam pengumpulan data peneliti menggunakan angket, sebaiknya subjek sejumlah ini diambil seluruhnya. Akan tetapi apabila peneliti menggunakan teknik wawancara (interview) atau pengamatan (observasi), jumlah tersebut dapat dikurangi menurut teknik pengambilan sampel sesuai dengan kemampuan peneliti.

Subjek penelitian, responden penelitian dan sumber data merupakan tiga hal yang mempunyai pengertian berbeda-beda. Subjek penelitian adalah benda, hal atau orang tempat variabel penelitian melekat. Responden adalah orang yang dapat memberikan jawaban atau keterangan tentang variabel. Sumber data adalah tempat, orang atau benda dimana peneliti dapat mengamati, bertanya atau membaca tentang hal-hal yang berkenaan dengan variabel yang diteliti. Sumber data secara garis besar dapat dibedakan atas: orang (person), tempat (place), dan kertas atau dokumen (paper).

Untuk menentukan besarnya sampel, peneliti harus memahami pengertian “unit analisis” Yang dimaksud dengan unit analisis adalah satuan yang menunjuk pada subjek penelitian. Unit analisis merupakan satu faktor yang dipertimbangkan oleh peneliti dalam menentukan besarnya sampel di samping pendekatan, ciri-ciri khusus yang ada pada populasi dan keterbatasan yang ada pada peneliti. Adanya ciri-ciri atau jenis kelompok pada populasi, menentukan teknik pengambilan sampel yang kemungkinannya adalah: sampling acak (random), sampling kelompok (cluster), sampling berstata (stratified), sampling wilayah (area), sampling berimbang (proportional) dan sampling kembar (double). Disamping itu ada teknik sampling yang kurang dapat dipertanggung jawabkan yang dikenal dengan sampling kebetulan. Dengan teknik ini peneliti hanya mengambil subjek yang secara kebetulan dapat dijumpai.

MENYALURKAN SENSUS

Tidak semua publik yang luas dapat dijadkan sampel. Sensus adalah kumpulan informasi dari semua anggota populasi. Untuk menyalurkan sensus, kita membutuhkan identifikasi semua orang atau artikel yang membuat informasi. Unit yang membentuk populasi didefinisikan sebagai elemen sampel. Daftar dari semua elemen sampel didefinisikan sebagai sampling frame.

Sampling frames

Sampling frame biasanya tidak lengkap. Sehingga kita harus membuat sebuah penilaian tentang kelengkapan dan keakuratan tiap sampling frame yang digunakan untuk mengumpulkan informasi tentang publik, media placement, dan lain sebagainya. Secara teknik, sampling frame didefinisikan sebagi studi publik aktual. Perbedaan antara studi umum yang ideal dengan populasi aktual didefinisikan oleh sampling frame mungkin tidak terlalu penting. Hal ini adalah masalah pertimbangan nilai, yang didasarkan tujuan riset. Bila pembedaan ini penting, maka kita mencari sampel yang aktual dan luas.

Keuntungan dari sensus

Keuntungan menggunakan sensus dalam target publik adalah mudah. Kita mendapatkan informasi yang pasti tentang seluruh populasi, dari pada harus membuat estimasi tentang populasi berdasarkan sampel. Tentunya hal ini dapat terjadi bila sensus lengkap, artikelnya juga lengkap dan seluruh pegawai dalam populasi dipelajari maka presentasenya secara tepat dideskripsikan – tidak perlu estimasi. Tetapi jarang sekali sebuh sensus 100 persen sukses. Karena kemungkinan terjadi kesalahan dalam proses pengumpulan artikel. Kerugian dari menggunakan sensus mempengaruhi pengambilan sampel yang mendasari riset.

Sumber bias

Bila sebuah sensus mengumpulkan informasi kurang dari 100 persen dari populasi atau umum, kesalahan informasi adalah bentuk umum bias. Kita tidak dapat yakin bahwa elemen kesalahan adalah serupa dengan elemen yang masuk dalam sensus. Bila elemen kesalahannya sedikit, maka potensi biasnya kecil, demikian pula sebaliknya. Untuk mempelajari elemen kesalahan dalam sebuah sensus atau sampel riset ada beberapa pertanyaan yang harus kita terima yaitu: apakah orang-orang yang tidak mengisi questioner tidak tertarik dengan newsletter? Apakah orang yang tidak berpartisipasi dalam riset tentang newsletter kelihatan lebih baik dari realitas dalam assembly line? Kerugian riset sensus adalah dalam hal waktu dan biaya. Seperti jumlah populasi atau umum yang meningkat, maka biaya pengumpulan informasi meningkat secara proporsional. Riset membutuhkan waktu lama agar lengkap dan biasanya waktunya tidak tersedia. Seperti jumlah target publik atau media placement yang meningkat, sampel memberikan pengganti efisien bagi riset sensus. Sampel memungkinkan kita membuat estimasi atau klaim pengetahuan tentang seluruh populasi, didasarkan pada informasi yang dikumpulkan dari populasi.

Pengambilan sampel dan klaim pengetahuan

Mungkin kita memutuskan untuk tidak mengumpulkan informasi dari tiap anggota target publik, atau menganalisa setiap artikel koran dalam kumpulan file. Ini berarti kita harus memutuskan bagaimana mempelajari beberapa anggota target publik (atau beberapa artikel koran dalam kumpulan file) dengan tujuan untuk membuat klaim pengetahuan tentang seluruh populasi. Klaim pengetahuan adalah sebuah pernyataan yang mendeskripsikan seluruh populasi tapi didasarkan pada informasi yang diperoleh hanya dari sampel atau subset populasi. Klaim pengetahuan yang dapat dipercaya tentang populasi adalah sangat tergantung dari tipe strategi pengambilan sampel yang digunakan. Ada dua kategori strategi pengambilan sampel:
  1. Non probability sampling stategies. Teknis pengambilan sampel ini memungkinkan kita membatasi dan memungkinkan bias pemahaman populasi darimana mereka diperoleh. Strategi ini berguna untuk mengadakan riset eksploratori.
  2. Probability sampling techniques. Teknik ini memungkinkan kita untuk menggunakan teori kemungkinan untuk membuat klaim pengetahuan yang tepat tentang seluruh populasi, didasarkan pada sampel yang diambil dari populasi.

Pengertian Kerangka Teoritis dan Ilmu Komunikasi + Contoh

Pengertian Kerangka Teoritis dan Ilmu Komunikasi + Contoh - Kerangka teoritis merupakan strategi dan pendekatan dalam memecahkan masalah, terdiri dari:

(a) Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka merupakan sub-bab mengenai upaya penulis untuk meninjau, mengembangkan dan mengkaitkan masalah yang dirumuskan dengan teori, konsep, hasil penelitian maupun hasil dokumentasi yang ada sebelumnya.

Tinjauan Pustaka:
  1. Mengembangkan uraian pada masalah penelitian.
  2. Mengungkapkan dasar teoritis dan empiris suatu masalah.
  3. Pengembangan suatu kerangka pemikiran.
  4. Memberikan dasar perumusan hipotesis.
  5. Membantu interprestasi hasil pengolahan data.

Pengertian Kerangka Teoritis dan Ilmu Komunikasi + Contoh_
image source : www.mba-online-program.com

(b) Kerangka Pemikiran
Kerangka konsepsi dan penelitian yang menyajikan hubungan variabel yang diperkirakan akan terjadi, dan diperoleh dari hasil/penjabaran tinjauan pustaka

Tujuan Kerangka Pemikiran
  1. Memberikan arah strategi dan pendekatan penulis untuk memecahkan masalah.
  2. Menggambarkan secara menyeluruh konsep yang digunakan dalam penelitian, dan sekaligus dapat menyajikan hubungan antara variabel atau faktor yang digunakan oleh penulis.

Pendekatan-Pendekatan dalam Keilmuan

Dalam mengatasi masalah kehidupan, manusia telah mengumpulkan sejumlah besar informasi atas pengetahuan. Petani mengetahui bahwa munculnya rasi bintang tertentu menunjukkan waktu yang baik untuk mulai mananam padai. Dukun dapat menunjukkan bahwa getah daun talas hitam dapat mempercepat penyembuhan luka. Orang mengetahui bahwa pembicara memiliki wibawa lebih pengengaruh daripada pendengarnya. Informasi-informasi ini sudah diterima kebenarannya tanpa dipersoalkan lagi. Informasi semacam ini kita sebut sebagai anggapan umum (commnon sense) dan merupakan pendahulu dari apa yang kita sebut sebagai ilmu. Banyak cabang disiplin ilmu tumbuh dari anggapan umum atau dari pemecahan terhadap masalah kehidupan sehari-hari. Geometri dari pengalaman mengukur medan, biologi dari pengalaman mengatasi kesehatan manusia atau pengurusan binatang, ekonomi dari persoalan rumah tangga dan sebagainya. Banyak pembahasan ilmu yang begitu terkesan dengan pertalian antara anggapan umum dan ilmu sehingga menyatakan bahwa ilmu tidak lain daripada anggapan umum yang diorganisasikan dan diklasifikasikan (Negel, 1961: 3). Bahkan sering dijadikan lelucon bahwa pekerjaan ilmuwan sosial hanyalah menemukan apa yang sudah lama diketahui orang banyak.

Perbedaan Anggapan Umum dengan Ilmu:
  • Informasi anggapan umum biasanya tidak disertai dengan penjelasan mengapa itu terjadi. Ilmu berusaha menemukan dan merumuskan kondisi-kondisi yg menentukan terjadinya berbagai peristiwa. Pernyataan tentang kondisi-kondisi penentu inilah yg disebut penjelasan ilmiah 
  • Informasi dalam anggapan umum mengandung konsep-konsep yang pengertiaanya luas atau kabur. Luas dlm arti bahwa makna / kelompok hal yg ditujukan o/ istilah tidak dibatasi secara jelas dan tajam. Kabur dlm arti hub. Di antara konsep-konsep itu tidak dirumuskan secara khusus dan cermat. Ilmu sebaliknya.
  • Anggapan Umum diterima tanpa diuji kebenarannya. Ilmu secara sistematis dan empiris menguji teori dan hipotesis yg dinyatakannya.
  • Anggapan umum tidak pernah mempersoalkan kontrol. Dalam pengertian ilmiah, kontrol berarti bahwa ilmuwan secara sistematis berusahan menghilangkan ikut sertanya variabel-variabel lain yang menjadi sebab terjadinya peristiwa tertentu selain variabel yg dihipotesiskan sebagai penyebab.
  • Ilmu dalam menjelaskan gejala yg diamatinya, selalu berusaha menghindari penjelasan metefisis. Karena penjelasan metafisis yg tidak dapat diuji 

Pengertian Ilmu Komunikasi

Ilmu komunikasi adalah salah satu cabang ilmu pengetahuan sosial yang bersifat multidisipliner. Disebut demikian, karena pendekatan-pendekatan yang dipergunakan berasal dari dan menyangkut berbagai bidang keilmuan lainnya seperti linguistik, sosiologi, psikologi, antropologi, politik, dan ekonomi. Hal ini yang terlihat secara jelas dalam pembahasan mengenai berbagai teori, model, perspekstif, dan pendekatan-pendekatan dalam ilmu komunikasi. Sifak kemultidisiplinan ini tidak dapat dihindari karena objek pengamatan dalam ilmu komunikasi sangat luas dan kompleks, menyangkut berbagai macam aspek sosial, budaya, ekonomi, dan politik dari kehidupan manusia.

Sebelum sampai pada bahasan tentang berbagai teori dan model dalam Ilmu Komunikasi, terlebih dahulu akan dibahas mengenai pendekatan-pendekatan atau pandangan-pandangan dalam keilmuan yang berlaku di kalangan masyarakat akademis. Hal ini penting karena pandangan-pandangan tersebut merupakan kerangka dasar dari berbagai teori dan model yang ada dalam ilmu komunikasi.

Manurut Littlejohn (1989), secara umum dunia masyarakat secara ilmiah menurut cara pandang serta objek pokok pengamatannya dapat dibagi dalam 3 kelompok atau pendekatan. Pertama, pendekatan scientific, pendekatan humanistic, pendekatan social science.

Pendekatan scientific umumnya berlaku dikalangan ahli-ahli ilmu eksakta. Menurut pandangan ini ilmu diasosiasiakan sebagai objektifitas. Objektifitas yang dimaksud adalah objektivitas yang menekankan pada prinsip standarisasi observasi dan konsistensi. Landasan philosofisnya adalah bahwa dunia ini pada dasarnya mempunyai bentuk dan struktur. Secara individual para peneliti boleh jadi berbeda satu sama lainnya tentang bagaimana rupa atau macam dari bentuk dan struktur tersebut. Namun, apabila para peneliti melakukan penelitian terhadap suatu fenomena dengan menggunakan metode yang sama, maka akan dihasilkan temuan yang sama. Inilah hakekat dari objektivitas dalam konteks standarisasi objervasi dan konsistensinya.

Ciri utama lainnya dari kelompok pendekatan ini adalah adanya pemisahan yang tegas antara known (objek atau hal yang ingin diketahui dan diteliti) dan knower (subjek pelaku atau pengawat). Salah satu bentuk metode penelitian yang lazim dilakukan adalah metode eksperimen. Melalui metode ini, peneliti secara sengaja melakukan suatu percobaan terhadap objek yang ditelitinya. Tujuan penelitian lazimnya diarahkan pada upaya mengukur ada tidaknya pengaruh atau hubungan sebab-akibat diantara dua variabel atau lebih, dengan mengontrol variabel lain. Prosedur yang umum dilakukan adalah dengan cara memberikan atau mengadakan suatu perlakuan khusus kepada objek yang diteliti serta meneliti dampak atau pengaruhnya.


Apabila aliran pendekatan scientific mengutamakan prinsip objektivitasnya, maka kelompok pendekatan humanistic mengasosiasikan ilmu dengan subjektivitas. Perbedaan-perbedaan pokok antara kedua aliran pendekatan ini antara lain:
  1. Bagi aliran pendekatan scientific ilmu bertujuan untuk menstandarisasikan observasi, sementara aliran humanistic mengutamakan kreatifitas individual.
  2. Aliran scientific berpandangan bahwa tujuan ilmu adalah mengurangi perbedaan-perbedaan pandangan tentang hasil pengamatan, sementara aliran humanistic bertujuan untuk memahami tanggapan dan hasil temuan subjektif individual.
  3. Aliran scientifik memandang ilmu pengetahuan sebagai sesuatu ”yang berada disana”, diluar diri pengmat peneliti. Di lain pihak, aliran humanistic melihat ilmu pengetahuan sebagai sesuatu yang ”berada disini”, dalam arti berada dalam diri pengamat/peneliti.
  4. Aliran scientific memfocuskan perhatiannya pada ”dunia hasil penemuan”, sedangkan aliran humanistic menitikberatkan perhatiannya pada ”dunia para penemunya”.
  5. Aliran scientific berupaya memperoleh ”konsensus”, sementara aliran humanistic mengutamakan interpretasi alternatif.
  6. Aliran scientific membuat pemisahan tegas antara knower dan known, sedangkan aliran humanistic cenderung tidak memisahkan kedua hal tersebut.

Dalam konteks ilmu-ilmu social, salah satu bentuk metode penelitian yang lazim dipergunakan dari aliran humanistic ini adalah ”partisipasi observasi”. Melalui metode ini, si peneliti dalam mengamati sikap dan perilaku dari orang-orang yang ditelitinya, membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan dari orang-orang yang ditelitinya. Misalnya: bergaul, tinggal di rumah orang-orang tersebut, serta ikut serta dalam aktivitas sehari-hari mereka dalam kurun waktu tertentu. Interpretasi atas sikap dan perilaku dari orang-orang yang ditelitinya, tidak hanya didasarkan atas informasi yang diperoleh melalui hasil wawancara atau tanya-jawab dengan orang-orang yang ditelitinya, tetapi juga atas dasar pengamatan langusung dan pengalaman berinteraksi dengan mereka.

Pandangan klasik dari aliran humanistic adalah bahwa cara pandang seseorang tentang sesuatu hal akan menentukan penggambaran dan uraiannya tentang hal tersebut. Karena sifatnya yang subjektif dan interpretatif, maka pendekatan aliran humanistic ini lazimnya cocok diterapkan untuk mengkaji persoalan-persoalan yang menyangkut sistem nilai, kesenian, kebudayaan, sejarah dan pengalaman pribadi.

Aliran ketiga adalah pendekatan khusus ilmu pengetahuan sosial. Pendekatan yang diterapkan oleh para pendukung kelompok aliran ini pada dasarnya merupakan gabungan atau kombinasi dari pendekatan-pendekatan yang ada. Dalam banyak hal, pendekatan ilmu social merupakan perpanjangan dari pendekatan ilmu alam, karena beberapa metoda yang diterapkan banyak diantarannya yang diambil dari ilmu alam. Namun, metode-metode pendekatan aliran humanistic juga diterapkan.


Pengertian Konsep dan Dasar Komunikasi Antar Budaya

Pengertian Konsep dan Dasar Komunikasi Antar Budaya - Topik untuk penulisan skripsi sangat dipengaruhi oleh minat mahasiswa. Minat tentu saja berkaitan dengan latar belakang pekerjaan maupun latar belakang pendidikan yang sedang ditempuh. Dalam riset Public Relations ini, mahasiswa haruslah melihat bahwa konteks topik tidak boleh keluar dari kerangka ilmu komunikasi dan peminatan Broadcasting.

Pengertian Konsep dan Dasar Komunikasi Antar Budaya_
image source: bharathivarsha1210.wordpress.com

Untuk memudahkan dalam memilih topik, mahasiswa diminta kembali melihat kepada komponen komunikasi yang sudah dipelajari di mata kuliah dasar dahulu, dimana komponen komunikasi meliputi:
  • Level komunikator, analisis sumber. 
  • Level pesan / isi pesan, meliputi isi pesan yang disampaikan oleh komunikator (pesan – pesan media) baik yang dilakukan secara kuantitatif (analisis isi), maupun kualitatif (analisis framing, analisis wacana, analisis gender dsb).
  • Level media, meliputi strategi redaksi/program/produksi, manajemen media.
  • Level komunikan, meliputi analisa khalayak yang meliputi respon, opini, persepsi dsb.
  • Level dampak, meliputi efek atau dampak dari isi pesan media ataupun strategi pemberitaan/tayangan/program yang berupa tingkat pemahaman, persepsi ataupun perubahan perilaku, diterima dan munculnya opini positif terhadap isi pesan dan / atau media. 

Pada intinya proses pertama dalam penulisan penelitian ini, perlu dicermati beberapa hal yang meliputi:
  • Bahwa topik penelitian harus penting (significance of topic)
  • Bahwa topik penelitian harus menarik perhatian peneliti (interesting topic)
  • Bahwa topik penelitian harus didukung oleh data atau dengan kata lain untuk topik tersebut tersedia datanya (obtainable data)
  • Bahwa topik penelitian harus dapat dilaksanakan dalam arti sebatas kemampuan penelitian (manageable topic)

Selain itu sebelum melakukan proses penelitian, harus diketahui dulu unsur-unsur yang akan dicerminkan dalam rumusan penelitiannya yaitu:
  • Problematika penelitian yang akan dicari jawabannya
  • Populasi atau subjek penelitian dimana dapat diperoleh data yang dimaksud
  • Wilayah penelitian tempat subjek penelitian berada
  • Waktu penelitian dilangsungkan

Menentukan Topik Yang Relevan

Sekali ide dasar riset telah dipilih atau ditetapkan, langkah selanjutnya adalah memastikan bahwa tapoik tersebut layak untuk diteliti. Tahap ini dapat diselesaikan dengan menjawab delapan pertanyaan mendasar.

Pertanyaan 1 : Apakah Topik Tersebut Terlalu Luas?

Kebanyakan riset menkonsentrasikan pada satu bidang kajian yang sempit; tidak banayk riset yang dilakukan untuk menganalisis semua bidang studi/kajian. Ada satu tendensi, mengapa seorang peneliti harus melakukan penelitian dengan tepa yang luas – sebagai contoh “efek televisi pada anak-anak,” atau “ efek informasi dari media masa terhadap pemilih dalam Pemilu.”

Untuk menghindari masalah ini, peneliti biasanya menguraikan masalah-masalah yang akan diteliti dengan tujuan untuk memilah dan memilih topic menjadi pertanyaan-pertanyaan yang sempit.

Pertanyaan 2 : Apakah masalah Tersebut Benar-Benar Dapat Diinvestigasi?

Masih ada hubungannya dengan keluasan topic, sebuah topic boleh jadi tidak dapat diinvestigasi secara sederhana karena pertanyaan yang diajukan tidak memiliki jawaban, atau tidak dapat dijawab dengan menggunakan fasilitas dan informasi yang tersedia. Sebagai contoh, bagi peneliti yang ingin mengetahui Bagaimana orang-orang yang tidak memiliki televise bereaksi terhadap situasi komunikasi antar pribadi sehari-hari harus mempertimbangkan masalah dalam menemukan subyek yang benar-benar tidak memiliki pesawat televisi di rumahnya.

Pertanyaan 3 : Apakah Data Rentan ?/ Mudah Untuk Dianalisis?

Sebuah topik tidak dapat memberikan dengan sendirinya apa yang diinginkan, jika data yang didapat tidak dapat diukuk tingkat keterpercayaan (realibility) dan kesahihannya (validity). Dengan kata lain, seorang peneliti yang akan mengukur efek tidak menonton televisi harus mempertimbangkan apakah informasi tentang perilaku subyek akan memadai dan dapat dipercaya, apakah si subyek akan mejawab dengan jujur.

Pertanyaan 4 : Apakah Masalah Tersebut Signifikan/Bermanfaat?

Sebelum riset dilaksanakan, peneliti harus menentukan, apakah topic tersebut telah layak, artinya apakah hasil penelitian tersebut memiliki nilai baik secara praktis maupun teoritis.

Pertanyaan 5 : Apakah Hasil Penelitian Dapat Digeneralisasikan?

Untuk memastikan bahwa riset yang dilakukan mempunyai nilai secara praktis – significan dengan analisis yang telah dilakukan – ia harus memiliki validitas eksternal; artinya, ia harus dapat digeneralisasikan dari satu situasi ke situasi yang lain. Sebagai contoh, penelitian mengenai efek dari kampanye PR di salah satu kota kecil, boleh jadi sesuai apabila diaplikasikan untuk kota kecil lainnya; atau meskipun kajian yang dilakukan memanglah tidak untuk digeneralisasikan, tetapi setidaknya riset tersebut memiliki eksternal validitas.

Pertanyaa 6 : Berapa Besar Biaya dan Waktu Yang Diperlukan?

Kedua hal tersebut kebanyakan menentukan apakah suatu riset mungkin dilakukan. Meskipun ide atau gagasan penelitian sangat cemerlang, namun jika biaya dan waktu yang diperlukan tidak memungkinkan, maka penelitian tersebut juga tidak memungkinkan dilakukan.

Pertanyaan 7 : Apakah Pendekatan Yang Direncanakan Sesuai Dengan Penelitian Yang akan Dilakukan?

Meskipun ide riset sangat cemerlang, namun perencanaan metode yang buruk dapat menjadi halangan. Misalnya, seorang peneliti akan mengukur perubahan atas penonton bioskop yang saat ini telah dipengaruhi oleh tayangan televisi di suatu kota dengan menyebarkan kuesioner ke sejumlah besar orang dengan menggunakan kuesioner yang dikirim melalui pos. Tentunya biaya pencetakan kuesioner dan pengiriman akan besar, belum lagi jika kita harus mem-follow up hasil kuesioner tersebut.

Pertanyaan 8 : Adakah Potensi Yang Membahayakan Pada Subyek Penelitian

Peneliti haruslah secara hati-hati menganalisa apakah penelitian yang dilakukan dapat “mengancam” subyek baik dari segi fisik maupun psikologis. Misalnya, apakah responden akan merasa ketakukan setelah menjawab pertanyaan? Apakah mereka harus menjawab pertanyaan yang dapat membuat mereka malu? Adfakah efek lanjutan dari hasil riset yang dilakukan? Pastikan hal-hal tersebut diantisipasi dan dipertimbangkan sebelum menentukan satu topik penelitian.

Proses Penelitian Ilmiah

Perbedaan esensial posisi teori dalam penelitian kuantitatif atau kualitatif, bahwa dalam penelitian kualitatif teori atau konsep digunakan untuk memahami gejala yang diteliti-untuk memahami latar penelitian-memahami setting penelitian dst. Sedangkan dalam penelitian kuantitatif setelah jelas obyek yang diteliti, pertanyaan penelitian dan tujuan penelitian dan alur berfikir peneliti (gagasan), tahap pertama; carilah landasan teori yang sesuai, yang dapat digunakan untuk mendekati masalah yang diteliti (konseptualisasi). Sedangkan teori yang digunakan berangkat dari teori yang general/umum (grand theory), Midle range theori sampai operational theory. Tanpa kejelasan teori yang digunakan dan pemahaman isi teori digambarkan Prof. Sugiyono seperti orang buta bercerita tentang gajah, dipegang rata disangkanya tembok atau mengutip gambaran Prof. Yosy Adiwisastra, seperti pawang ular bercerita tentang gajah, dipegang panjang disangkanya ular, padahal ...ekor gajah.

Dalam penelitian kuantitatif pertanyaan-pertanyaan penelitian-apa yang diteliti atau apanya yang diteliti alih-alih menanyakan apa variabel dalam penelitian tersebut. Sedangkan variabel berdasar pada hipotesis penelitian. Hasil proses deduksi teori atas gejala yang diteliti merupakan hipotesis penelitian, yang mana hipotesis tersebut memberi informasi dan gambaran tentang apa variabel-variabel penelitiannya dan bagaimana hubungan antar variabel, sebagai representasi atas gejala dan hubungan antar gejala yang diteliti.

Sedangkan variabel merupakan konstruk yang memiliki variasi nilai, konstruk yang sifat-sifatnya telah diberi nilai, sedangkan Konstruk adalah konsep yang telah dibatasi pengertiannya (unsur-unsurnya, ciri-cirinya, sifat-sifatnya) sehingga dapat diamati dan dapat diukur. Konsep adalah abstraksi yang dibentuk dengan mengenaralisasikan hal-hal yang khusus (Kerlinger, 1971:28). Konsep adalah abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari sejumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok, atau individu tertentu (Effendi, 1989:34). Proposisi adalah hubungan yang logis antara dua konsep atau lebih. Sedangkan Teori adalah serangkaian asumsi, konsep, konstruk, definisi dan proposisi untuk menerangkan suatu fenomena sosial secara sistematis dengan cara merumuskan hubungan antar konsep ( Kerlinger, 1973 :3).

Dengan demikian pada hakekatnya variabel dapat diturunkan dari teori yang didalamnya terdiri dari beberapa konsep, yang mana konsep-konsep tersebut masih abstrak, sehingga perlu dibatasi pengertiannya sesuai dengan obyek yang diteliti sehingga menjadi konstruk. Proses menginterpretasikan dan mengunakan konsep yang abstrak menjadi konstruk dalam mendekati masalah penelitian disebut dengan operasionalisasi konsep. Supaya dapat digunakan untuk meneliti opersionalisasi konsep tersebut diikuti dengan pengukuran (measurement) sehingga menjadi variabel, sedangkan operasionalisasi variabel dapat diterjemahkan sebagai gambaran hubungan antar variabel, yang nantinya digunakan sebagai dasar pengujian hipotesis. Dengan demikian melalui deduksi teori (deduksi logis teori) yang masih abstrak dirumuskan menjadi hipotesis penelitian sesuai dengan permasalahan dan tujuan penelitian, dengan demikian telah memasuki tahap kedua proses penelitian.


Pengertian dan Fungsi Filsafat, dan Hubungan Filsafat Komunikasi

Pengertian dan Fungsi Filsafat, dan Hubungan Filsafat Komunikasi - Apabila kita mendengar kalimat “Etika dan Filsafat Komunikasi“ pasti yang terpikir dalam ingatan kita adalah kaitan antara “Etika dan Filsafat“ dengan “Komunikasi“. Istilah komunikasi sudah sedemikian lazim dikalangan kita, meskipun masing-masing orang mengartikannya secara berbeda-beda. Keseharian kita dipenuhi oleh penggunaan komunikasi dan saat ini komputer adalah sarana komunikasi yang tercanggih.

Pengertian dan Fungsi Filsafat, dan Hubungan Filsafat Komunikasi_
image source: www.bu.edu

B. Aubrey Fisher menyatakan bahwa fenomena komunikasi manusia sedemikian kompleksnya, sampai – sampai dapat digambarkan pada tiga kata serba yaitu : serba ada, serba luas, dan serba makna. Sebenarnya kalau dirunut dari asal muasal bahasa, kata komunikasi diserap dari bahasa inggris “communication“ yang dapat dirujuk dari kata latin “communis” yang berarti “sama”, “communico, communicatio” atau istilah “communicate” yang berarti “membuat sama” (to make common) istilah “communis” adalah istilah yang paling disebut sebagai asal – usul kata komunikasi yang merupakan akar dari kata – kata latin lainnya yang mirip. Pengertian ini mengartikan bahwa “suatu pikiran, suatu makna” atau “suatu pesan yang dianut secara sama”. (Mulyana. 2000:41).

Rudolph F. Verderber mengemukakan bahwa komunikasi itu memiliki dua fungsi, yaitu: Pertama, fungsi sosial untuk tujuan kesenangan, untuk menun jukkan ikatan dengan orang lain, membangun dan memeliharahubungan. Kedua, fungsi pengambilan keputusan, yaitu memutuskan untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu pada suatu saat tertentu. (Mulyana, 2000:4).

Alfraed Korzybski menyatakan bahwa kemampuan manusia berkomunikasi menjadi manusia “pengikat waktu” (time binder). Pengikatan waktu merujuk pada kemampuan manusia untuk mewariskan pengetahuan dari generasi ke generasi dan dari budaya ke budaya. Pengikat waktu ini jelas merupakan suatu karakteristik yang membedakan manusia dengan lainnya. Dengan ini manusia mampu mengendalikan dan mengubah lingkungan mereka. (Mulyana, 2000:6).

George Herbert Mead mengatakan bahwa setiap manusia mengembangkan konsep dirinya melalui intreraksi dengan orang lain dalam masyarakat dan itu dilakukan lewat komunikasi. Jadi kita mengenal diri kita lewat orang lain, yang menjadi cermin yang memantulkan bayangan kita. Charles H. Cooley menyebut konsep diri ini sebagai the looking glass self yang secara signifikan ditentukan oleh apa yang seseorang pikirkan mengenai pikiran orang lain terhadapnya, jadi menekankan pentingannya respons orang lain yang diintepretasikan secara subjektif sebagai sumber primer data mengenai dirinya. (Mulyana 2000:10).

Melalui tilikan filsafat ilmu, kita tahu bahwa filsafat ilmu adalah bagian filsafat yang mempertanyakan soal pengetahuan dan juga soal bagaimana kita dapat mengetahui sesuatu. C.A Van Peursen menguraikan mengenai cakupan bahasan dari filsafat ilmu. Ia menyatakan bahwa ada dua kecendrungan yang dimiliki filsafat ilmu. Pertama, filsafat ilmu menyelidiki dasar –dasar ilmu. Misalnya, bila ilmu komunikasi mempergunakan istilah pesan, pertanyaan metafisik yang muncul adalah apakah pesan merupakan sesuatu yang sungguh – sungguh ada secara mandiri atau hanya merupakan sesuatu yang dianggap ada dalam tindak komunikasi? Kedua, filsafat ilmu menyelidiki keabsahan metedologi yang digunakan suatu ilmu. Misalnya, bila memang pesan benar – benar ada secara nyata dalam tindak komunikasi dapat diajukan pertanyaan metodologis: bagaimana kebenaran pesan itu? Apakah kebenarannya dapat diverifikasi atau difalsifikasi?

Pembaharuan ilmu terus menerus dapat terjadi karena filsafat menggunakan rasio yang kritis, refleksif dan integral terhadap objek kajiannya. Filsafat tidak pernah puas dengan penampakan melainkan secara kritis menerobos penampakan (fenomena) itu demi mencapai hakikat yang paling dasar atau kenyataannya sendiri. Filsafat mengedepankan “kekritisan dalam membongkar asumsi” refleksi dalam mengedepankan apa – apa yang diserap indra untuk diolah oleh rasio dan radikal dalam mengupayakan pemahaman yang mendasar sampai keakar – akarnya. (Gahral Adian. 2002:21).

Berbeda dengan filsafat, ilmu pengetahuan hanya mencoba menerangkan gejala – gejala secara ilmiah. Dalam mengupayakan penjelasan ilmiah itu, ilmu pengetahuan menggunakan metode. Ilmu pengetahuan telah terspesialisasi menjadi disiplin – disiplin yang satu sama lain seakan tanpa hubungan. Objek formal dari masing – masing ilmu ditentukan secra ketat, sehingga semua ilmu berbeda secara ketat pula. Jadi ilmu pengetahuan memandang suatu gejala secara terfokus, tidak integral sebagaimana filsafat memandang gejala. (Gahral Adian. 2002:22).

Setelah mengetahui penjelasan diatas, maka akan muncul pertanyaan apakah yang dimaksud dengan filsafat ilmu komunikasi itu? Secara sederhana kita dapat menjawabnya suatu filsafat yang mencoba mengkaji ilmu komunikasi dari ciri – ciri dan cara – cara pemerolehannya. Jadi dapat disimpulkan bahwa filsafat ilmu memberikan sejumlah pertanyaan terhadap ilmu tersebutagar ilmu itu berkembang, berada dalam kerangka yang lebih luas, memiliki hubungan dengan ilmu – ilmu lain, dan dapat menjadi sistematis dan memiliki kebenaran.

PENGERTIAN FILSAFAT (APA ITU FILSAFAT?)

Secara etimologi, filsafat adalah istilah atau kata yang berasal dari bahasa yunani yaitu “philosophia”. Kata itu terdiri dari dua kata yaitu “philos” dan “shopia”, philos artinya cinta, pecinta, mencintai dan shopia artinya kebijakan, kearifan, hikmah dan hakikat kebenaran. Jadi secara harfiah istilah filsafat adalah cinta pada kebijaksanaan atau kebenaran yang hakiki.

Berfilsafat berarti berpikir sedalam – dalamnya (merenung) terhadap sesuatu sistematik, menyeluruh, dan universal untuk mencari hakikat sesuatu. Dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang paling umum yang mengandung usaha mencari kebijaksanaan dan cinta akan kebijakan.

Kata filsafat untuk pertama kali digunakan oleh “phitagoras” (582-496 SM) dia adalah seorang ahli pikir dan pelopor matematika yang menganggap bahwa inti sari dan hakikat teori semesta ini adalah bilangan. Namun demikian, banyaknya pengertian filsafat sebagaimana yang diketahui sekarang ini adalah sebanyak tafsiran para filsuf itu sendiri.

Pada umumnya terdapat dua pengertian filsafat yaitu filsafat dalam arti “proses” dan filsafat dalam arti “produk”. Selain itu ada pengertian lain yaitu filsafat sebagai ilmu dan filasafat sebagai pandangan hidup, disamping itu dikenal pula filsafat dalam arti teoritis dan praktis. Pancasila digolongkan sebagai filsafat dalam arti produk, filsafat sebagai pandangan hidup dan filsafat dalam arti praktis. Hal itu berarti pancasila mempunyai fungsi dan peranan sebagai pedoman dan pegangan dalm sikap, tingkah laku dan perbuatan dalam kehidupan sehari – hari dan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia dimanapun mereka berada.

MENGAPA MANUSIA MEMERLUKAN FILSAFAT?

Hal lain yang tidak kalah pentingnya untuk memahami filsafat adalah dari sisi pragmatis atau kegunaannya. F. Budhi Hardiman (2003) menulis, “Filsafat, misalnya, tak dapat menghasilkan teknologi seperti yang dengan sangat gemilang dibuktikan oleh ilmu – ilmu alam. Filsafat juga tak dapat secara langsung menghasilkan penataan sosial, seperti yang bisa dilakukan sosiologi dan ekonomi. Mengharapkan sebuah efek material tertentu dari filsafat tampaknya tidak pada tampaknya” (Hardiman. 2003:13).

Bertens mengatakan bahwa studi filsafat dapat mempersiapkan mahasiswa untuk sanggup menempatkan problem – problem yang harus ditangani dalam konteks lebih luas dan pada tahap lebih mendalam. Mahasiswa akan lebih gampang dalam menangkap inti persoalan dan tahu membedakan hal – hal penting dari hal – hal sampingan. Namun filsafat juga seringkali dapat membantu untuk menilai dan mensituir problem – problem kongkrit dengan lebih tepat dan matang. (Bertens. 1987:19).

Tulisan Bertens mengemukakan bahwa ketika bergandengan dengan suatu ilmu, filsafat akan menjalankan tugas sebagai berikut:
  • Filsafat dapat menyumbang untuk memperlancar integrasi antara ilmu – ilmu yang sangat dibutuhkan. Sudah disebutkan bahwa kecondongan ilmu pengetahuan untuk berkembang kearah spesialisasi dan superspesialisasi. Mengenai filasafat pernah dikatakan dengan cara agak paradoksal bahwa ia memunyai die spezialitat des allgemeinen (K. Jaspers): spesialis ialah “yang umum”. Itu berarti bahwa bagi filsafat tidak ada spesialisasi khusus, filsafat bertugas untuk tetap memperhatikan keseluruhan dan tidak berhenti pada detail – detailnya. 
  • Filsafat dapat membantu juga dalam membedakan antara ilmu pengetahuan dan saintisme. Dengan saintisme dimaksudkan pendirian yang tidak mengakui kebenaran lain dari pada kebenaran yang disingkapkan dalam ilmu pengetahuan dan tidak menerima cara pengenalan lain dari pada cara pengenalan yang dijalankan oleh ilmu pengetahuan. Jadi saintisme memutlakkan berlakunya ilmu pengetahuan. Atau kita dapat merujuk pada faedah – faedah berikut ini:
    1. Filsafat atau berfilsafat mengajak manusia bersikap arif dan berwawasan luas terhadap terhadap berbagai problem yang dihadapi manusia diharapkan mampu memecahkan problem dengan cara mengidentifikasinya agar mendapat jawaban dengan mudah.
    2. Berfilsafat dapat membentuk pengalaman kehidupan seseorang secara lebih kreatif atas dasar pandangan hidup atau ide – ide yang muncul karena keinginannya.
    3. Filsafat dapat membentuk sikap kritis seseorang dalam menghadapi permasalahan baik dalam kehidupan sehari – hari maupun dalam kehidupan lainnya (interaksi dengan masyarakat, komunitas, agama dan lain – laindiluar dirinya) secara rasional, lebih arif, dan tidak terjebak dalam fanatisme yang berlebihan.
    4. Faedah keempat adalah merupakan bagian penting yang dibutuhkan oleh para ilmuwan atau para mahasiswa yaitu dibutuhkan kemampuan menganalisis, analisis kritis secara komprehensif dan sintesis atas berbagai permasalahan ilmiah yang dituangkan dalam suatu riset, penelitian atau kajian ilmiah lainnya (Budianto 2005:13-19). 

Secara spesifik, filsafat memiliki tugas mengkritisi teknologi, memberi makna, dan menegaskan etika terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Mengapa demikian dibutuhkan? Karena ada bahaya riil bahwa kita terlalu naïf menantikan anugerah – anugerah teknologi tanpa cukup menyadari segi – segi negatifnya.

Tugas filsafat yang lain dapat dikatakan sebgai berikut: ilmu pengetahuan dapat menjawab pertanyaan “bagaimana?” dan sering kali sudah sangat berhasil dalam memberikan jawaban yang memuaskan. Tetapi ilmu pengetahuan tidak dapat menjawab pertanyaan “untuk apa?” tidak dikatakan bahwa filsafat selalu dapat menjawab pertanyaan terakhir ini dengan jelas ttetapi pertanyaan tersebut memang termasuk kompetensi filsafat. Dengan kata lain filsafat berbicara tentang “makna”.

Albert camus mengatakan bahwa soal yang utama bagi filsafat ialah bunuh diri karena dengan perbuatan nekad itu ditampilkan pertanyaan yang fundamental “is life worth while tobe lived?” makna kehidupan manusia merupakan soal filosofis nomor satu. Sementara tugas ketiga yang menyangkut etika dibutuhkan karena ada banyak kenyataan yang menunjukkan kelupaan akan etika karena bahwa sekarang ini kita terutama memerlukan suatu etika yang menyoroti ekonomi. Etika dibutuhkan agar kerja kemanusiaan menjadi terarah pada humanisasi sehingga masalah – masalah yang menghambat kemanusiaan dapat tereliminasi. Jadi melalui filsafat ilmu komunikasi kita dapat berharap bahwa kegiatan ilmiah ilmu komunikasi dapat berkembang secara kritis, penuh makna dan tidak kehilangan pijakan etikanya.

FUNGSI-FUNGSI FILSAFAT

Radha Krishnan dalam bukunya “histori of philosopi” menyebutkan fungsi filsafat adalah: kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menopang dunia baru, mencetak manusia – manusia yang menjadikan penggolongan – penggolongan berdasarkan “nation, ras, dan keyakinan”.

Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerja brata yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajam pikiran maka H. devos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui tetapi harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari – hari, orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar – dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dan fungsi filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu baik dalam logika, etika maupun metafisik.

KETERKAITAN ANTARA FILSAFAT DAN HAKIKAT FILSAFAT KOMUNIKASI

Proses komunikasi dapat dilihat dalam dua perspektif besar, yaitu perspektif psikologis dan mekanis. Perspektif psikologis dalam proses komunikasi hendak memperli-hatkan bahwa komunikasi adalah aktivitas psikologi sosial yang melibatkan komunikator, komunikan, isi pesan, lambang, sifat hubungan, persepsi, proses decoding, dan encoding. Perspektif mekanis memperlihatkan bahwa proses komunikasi adalah aktivitas mekanik yang dilakukan oleh komunikator, yang sangat bersifat situasional dan kontekstual.

Dari proses komunikasi yang begitu kompleks dan tidak sederhana tersebut, refleksi komunikasi diperlukan untuk mendapatkan perspektif yang lebih luas dan komprehensif. Refleksi proses komunikasi tersebut sering di-masukkan dalam disiplin filsafat komunikasi.

Menurut Prof. Onong Uchjana Effendi (2003: 321), filsafat komunikasi adalah suatu disiplin yang menelaah pemahaman (versteben) secara lebih mendalam, funda­mental, metodologis, sistematis, analitis, kritis dan kom- prehensif teori dan proses komunikasi yang meliputi segala dimensi menurut bidang, sifat, tatanan, tujuan, fungsi, teknik, dan metode-metodenya.

Sifat komunikasi, meliputi komunikasi verbal dan nonverbal. Tatanan komunikasi, meliputi intrapribadi, antarpribadi, kelompok, massa, dan media.

Tujuan komunikasi bisa terdiri dari soal mengubah sikap, opini, perilaku, masyarakat, dan lainnya. Sementara itu, fungsi komunikasi adalah menginformasikan, mendidik, mempengaruhi.

Teknik komunikasi terdiri dari komunikasi informatif, persuasif, pervasif, koersif, instruktif, dan hubungan manusia wi. Metode komunikasi, meliputi jurnalistik, hu­bungan masyarakat, periklanan, propaganda, perang urat saraf, dan perpustakaan.

Sehingga dengan demikian bisa dikatakan bahwa fil­safat komunikasi adalah ilmu yang mengkaji setiap aspek dari komunikasi dengan menggunakan pendekatan dan metode filsafat sehingga didapatkan penjelasan yang mendasar, utuh, dan sistematis seputar komunikasi.

Pemikiran filsafat komunikasi merupakan pemikiran yang menyatu dengan pemikiran teori komunikasi. Beberapa tokoh yang menjadi pemikir filsafat komunikasi adalah Richard L. Lanigan, Stephen Littlejohn, Whitney R. Mundt.


Pengertian Kepemimpinan, Organisasi, dan Manajemen Menurut Ahli

Pengertian Kepemimpinan, Organisasi, dan Manajemen Menurut Ahli - Kepemimpinan adalah subyek yang telah lama menarik perhatian banyak orang. Istilah yang mengkonotasikan citra individual yang kuat dan dinamis yang berhasil memimpin di bidang kemiliteran ,memimpin Perusahaaan yang sedang berdiri dipuncak kejayaan, atau memimpin Negara. Istilah ini juga sering dipakai untuk menggambarkan tentang keberanian dan kemampuan memimpin dalam berbagai legenda dan mitos. Sebagian Besar gambaraan sejarah kita adalah kisah tentang suatu peristiwa sejarah yang penting, meskipun kita tidak terlalu mengetahui bagaimana peristiwa itu terjadi atau seberapa besar pengaruh kepemimpinannya.

Berbagai pertanaan tenang kepemimpinan telah lama menjadi subyek spekulasi, tetapi penelitian secara ilmiah Baru dimulai setelah abad ke-20. Focus perhatian dari para peneliti lebih banyak tentang efektifitas kepemimpinan. Ilmuwan social berusaha untuk mengetahui ciri-ciri, kemampuan, perilaku, sumber-sumber , kekuasaan atau aspek situasi yang menentukan bagaimana pemimpin yang baik dapat mempengaruhi para pengikutnya dan menyelesaikan permasalahan di dalam kelompoknya. Pertanyaan lain yang diteliti adalah mengapa beberapa orang muncul menjadi pemimpin dan factor apa yang menentukan cara pemimpin tersebut bertindak, tetapi yang paling mendapatkan perhatian adalah efektifitas kepempinan.

Pengertian Kepemimpinan, Organisasi, dan Manajemen Menurut Ahli_
image source: www.whollysimcha.com

Beberapa kemajuan telah dilakukan dalam penelitian mengenai misteri kepemimpinan, tetapi beberapa pertanyaan masih ada yang belum terjawab. Dalam buku ini, teori utama dan temuan riset tentang efektifitas kepemimpinan akan dipelajari, dengan penekanan pada kepemimpinan manajerial dalam organisasi formal sperti pada perusahaan bisnis, lembaga pemerintahan , rumah sakit dan perguruan tinggi.

DEFINISI KEPEMIMPINAN

Isitlah Kepemimpinan adalah kata yang diambil dari kata-kata yang umum dipakai dan merupakan gabungan dari kata ilmiah yang tidak didefinisikan kembali secara tepat. Maka kata ini memiliki konotasi yang tidak ada hubungannya dengan kepemimpinan sehungga mempunyai arti yang mendua (janda, 1990). Disamping itu juga ada hal-hal yang membingungkan karena adanya penggunaan istilah lain seperti kekuasaan, wewenang , manajemen, administarsi, pengendalian, dan supervisi yang juga menjelaskan hal yang sama dengan kepemimpinan. Observasi yang dilakukan oleh bennis (1959, h.259) masih dianggap benar hingga sekarang seperti yang dinyatakan beberapa tahun yang lalu :

“seperti konsep kepemimpinan selalu kabur atau kembali menjadi tidak jelas karena artinya yang kompleks dan mendua. Jadi kita harus berjanji untuk menemukan dan menghentikan perkembangan istilah kepemimpinan, tetapi juga konsep ini tidak ada yang tuntas mendefisikannya. “

Penelitian biasa mendifinisikan kepemimpinan sesuai dengan prespektif individualnya dan aspek gejala yang paling menarik perhatiannya. Setelah melakukan peninjauan mendalam terhadap literature kepempinan, stogdill(1974, h 259 ) menyimpulkan bahwa “terdapat banyak definisi kepemimpinan yang banyaknya sama dengan jumlah orang yang mendefinisikan konsep ini”.

DEFINISI KEPEMIMPINAN MENURUT PARA AHLI

  • Kepempinan adalah “perilaku individu… yang mengarah aktivitas kelompok untuk mencapai sasaran bersama “ (hemphill & Coons, 1957 , h 7)
  • Kepemimpinan adalah “pengaruh tambahan yang melebihi dan berada di atas kebutuhan mekanis dalam mengarahkan organisasi secara rutin”, (D.Katz & Khan 19787, h 528)
  • Kepemimpanan dilaksanakan ketika seseorang.. memmobilisasi… sumber daya institusional, politis, psikologis, dan sumber sumber lainnay untuk membangkitkan melibatkan dan memenuhi motivasi pengikutnya (Rauch & Behl,1984 H.46)

PERAN KHUSUS ATAU PROSES PEMBERIAN PENGARUH

Perdebatan penting dalam pembahasan kepemimpinan adalah apakah kepemimpinan harus dipandang sebagai peran khusus atau proses pemberian pengaruh bersama. Salah satu pandangan menyatakan bahwa dalam setiap kelompok memiliki tanggung jawab dan fungsi yang tidak dapat dibagi-bagi terlalu luas karena dapat membahayakan efektifitas kelompok. Orang yang diharapkan untuk melaksanakan peran kepemimpinan ditunjuk sebagai “pemimpin”. Anggota kelompok yang lainnya disbeut para “pengikut”. Walapun di antara mereka dapat membantu pemimpin utama itu dalam melaksanakan dan fungsi kepemimpinannya.

Cara lain untuk menelaah kepemimpinan adalah berdasar proses pemberian pengaruh yang terjadi secara alami pada system social dan yang banyak disebarkan ke pada anggota. Penusl dengan pandangan ini yakin bahwa lebih bermanfaat untuk mempelajari “kepemimpnan “ sebagai proses social dari pada sebagai peran khusus beberapa individu dalam kelompok maupun atau organisasi lainnya. Berbagai fungsi kepempinan dapat dijalankan oleh orang yang berbeda yang mempengaruhi apa yang dilakukan kelompok, bagaimana melakukannya dan cara anggota kelompok saling berhubungan satu sama lain.keputusan kepentingan mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya dikerjakan melalu pengguan proses interaktif yang melibatkan banyak orang yang saling mempengaruhi.

JENIS PROSES PEMBERIAN PENGARUH

Perdebatan mengenai deinisi kepmimpinan tidak hanya berkaitan dengan siapa yang menggunakan pengaruh tetapi juga jenis pengaruh yang digunakan dan apa hasilnya. Beberapa ahli teori membatasi definisi kepemimpinan dengan penggunaan pengaruh yang menghasilkan komitmen yang tinggi dari para pengikut yang berlawanan dengan ketidakrelaan atau keengganan untuk mematuhi. Para ahli teori ini menyatakan bahwa seseorag yang menggunakan control ataas penghargaan dan hukuman untuk memanipulasi atau memaksa para pengikutnya tidaklah benar-benar “memimpin” mereka dan tidak etis karena itu merupakan penyalahgunaan kekuasaan.

Pandangan yang berlawanan adalah bahwa definisi ini terlalu membatasi karena menghilangkan beebrapa proses mempengaruhi yang penting untuk memahami mengapa seorang manajer itu efektif atau tidak dalam situasi tertentu. Jenis pengaruh yang sama dapat memberikan hasil yang berbeda tergantung pada sifat situasi tersebut, dan hasil kepemimpinan yang sama dapat dicapai dengan metode mempengaruh yang berbeda. Bahkan masyarakat yang dipaksa atau di manipulasi tersebut akhirnya berkomitmen untuk melakukan sesuatu jika kemudian mereka mengetahui bahwa hal merupakan pilihan terbaik bagi mereka dan bagi organisasi. Maslaah etika dalam penggunaan kekuasan merupakan perhatian yang sah bagi para kepemimpinan, tetapi hal ini seharusnya tidak membatasi definisi kepempinan atau jenis prose pengaruh yang dipelajari.
TUJUAN MEMPENGARUHI

Perdebatan lainnya yang berkaitan dengan usaha mempengaruhi adalah yang berkaitan dengan tujuan dan hasil kepemimpinan. Salah satu pandangan menyatakan kepemimpinan terjadi hanya ketika orang terpengaruh untuk melakukan yang etis dan bermanfaat bagi organisasi dan dirinya sendiri. Definisi kepemimpinan ini tidak meliputi usaha mempengaruhi yang tidak relevan atau menentukan bagi para pengikut, seperti usaha pemimpin untuk mendapatkan keuntungan pribadi dengan mengorbankan para pengikutnya.

PENGARUH BERDASARKAN PENALARAN ATAU EMOSI

Beberapa definisi kepemimpinan yang disebutkan sebelumnya terlihat menenkankan pada proses rasional dan kognitif. Pada masa lalu pandangan tentang kepemimpinan merupakan proses dimana pempimpin mempengaruhi pengikutnya untuk meyakini bahwa mereka akan untuk jika bekerja sama dalam mencapai tujuan bersama. Hingga tahun 1980-an, beberapa konsep kepemimpinan mengenali pentingnya emosi sebagai dasar untuk memberikan pengaruh.

Sebaliknya , banyak konsepsi terbaru tentang kepemimpinan jauh lebih menekankan aspek emosional pengaruh daripada pelanaran. Menurut pandangan ini , hanya aspek kepemimpinan yang didasarkan pada emosi dan nilai saja yang dapat diperhitungkan untuk mencapai keberhasilan luar biasa bagi kelompok dan organisasi. Sebagai contoh :
“Tentara mempertaruhkan hidupnya untuk menjalankan suatu misi penting atau melindugi kawan seperjuangannya. “
KEPEMIMPINAN VERSUS MANAJEMEN 

Perdebatan terus berlanjut yang berkaitan dengan perbedaan antara kepemimpinan dan manajemen. Jelaslah bahwa seseorang bisa menjadi pemimpin tanpa harus menjadi manajer (contoh pemimpin formal ), dan seseorang bisa menjadi manajer tanpa harus memimpin. Memang ada beberapa orang dengan jabatan “manajer” tetapi tidak mempunya bawahan ( contoh manajer keuangan ). Tidak ada seorangpun yang menyatakan bahwa mengelola dan memimpin adalah ekuivalen, tetapi tingkat tumpang –tindih antara keduanya menjadi perdebatan yang sangat tajam .

Beberapa penulis (seperi bennis & nanus , 1985;Zaleznik, 1977) Berpendapat bahwa kepemimpinan dan manajemen adalah bebeda secara kualitatif dan saling meniadakan. Beberapa perbedaan yang paling ekstrim melibatkan asumsi bahwa manajemen dan kepemimpanan tidak mungkint terjadi pada satu orang yang sama.

DEFINISI KERJA ISTILAH PENTING

Dalam penelitian, definisi operasional atau kerja dari kepemimpinan tergantung pada seberapa luas tujuan para peniliti (Campbell 1977, ). Tujuannya mungkin untuk mengindentifikasikan pemimpin, untuk menentukan bagaimana mereka dipilihm atau menentukan apakah mereka dibutuhkan, speerti catatan karmel (1978, h, 467) “kosekuensinya sangat sulit bila hanya menggunakan satu definisi kepemimpinan yang cukup umum sehingga mampu mengakomodasikan berbagai makna ini dan cukup spesifik sehingga mampu berfungsi sebagai operasionalisasi variable itu. “ jika dimungkinkan, penelitian kepemimpinan harus didesain agar dapat memberikan informasi yang relevan, bagi seluruh kisaran definisi, sehingga dari waktu ke waktu, mungkin nantinya akan dapat membandingkan manfaat dari konsepsi-konsepsi tersebut dan akan dicapai suatu konsepsi tersebut.

Kepemimpinan didefinisikan secara luas dengan menggunakan cara yang mempertimbangkan beberapa hal yang menentukan suksesnya usaha kolektif anggota kelompok atau organisasi untuk menylesaikan tugas-tugas penting. Sedikit definisi yang digunakan :
“kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi orang lain untuk memahami dan setuju dengan apa yang perlu dilakukan dan bagaimana tugas itu dilakukan secara efektif, serta proses intuk memfasilitasi upaya individu dan kolektif untuk mencapai tujuan bersama. “
Kepemimpan dipandang baik sebagai peran khusus dan proses pemberian pengaruh secara social. Setiap orang dapat memerankannya (misalkan kepemimpinan dapat dilakukan bersama atau didistribusikan ) tetapi beberapa perbedaan peran diasumsikan terjadi dalam berbagai kelompok atau organisasi. Baik proses rasional maupun emosional, ditinjau dari aspek yang ensesial dalam kepemimpinan.

Pemimpin mempengaruhi dari aspek-aspek dibawah ini :
  • Interpresati peristiwa eksternal oleh para anggota 
  • Pilihan tujuan dan strategi yang ingin dicapai 
  • Motivasi anggota unturk mencapai tujuan tersebut 
  • Rasa salng percaya dan bekerja sama antar anggota 
  • Organisasi aktivitas kerja
  • Pengembangan kepercayaan dan keterampilan anggota 
  • Pembelajaran dan pembagian pengetahuan baru antar anggota 
  • Pembuatan daftar dukungan 

Istilah bawahan dan laporan langsung digunakan secara bergantian untuk menujukkan seseorang yang aktivitas kerja utamanya bagi kelompok atau organisasi selalu diarahkan dan dievaluasi oleh pemimpin utama. Dan beberapa pakar menggunakan istilah Staff untuk menggantikan istilah bawahan.

EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN

Definisi kepemimpinan, konsep pemimpin yang efektif juga berbeda antara satu pakar dengan paka lainnya. Criteria yang dipilih untuk mengevaluasi efektifitas kepemimpinan mencerminkan bagaimana peneliti menentukan konsep kepemimpinan secara eksplisit maupun implicit. Sebagian besar peneliti mengevaluasi efektivitas kepemimpinan berdasarkan konsekuensi dari tindakan pemimpin bagi pengikut dan komponen lainnya dalam organisasi. Berbagai jenis hasil yang digunakan itu mencakup kinerja dan pertumbuhan kelompok atau organisasi pemimpin tersebut, kesiapannya untuk menghadapi tantangan tujuan kelompok , kesejahteraan dan perkembangan psikologis para pengikutnya, bertambahnya status pemimpin dalam kelompok dan kemajuan pemimpin ke posisi wewenang yang lebih tinggi dalam organisasi.

Ukuran yang paling banyak digunakan untuk menguru efektifitas pemimpi8n adalah seberapa jauh unit organisasi pemimpin tersebut berhasil menunaikan tugas dengan pencapaian sasarannya. Contoh ukuran kinerja yang obyektif mengenai pencapaian kinerja atau sasaran adalah keuntungan, marjinm peningkatan penjualan dll.

Sikap para pengikut terhadap pemimpin adalah indicator umum lainnya dari pemimpin yang efektif. Efektivitas pemimpin kadang-kadang diukur berdasarkan kontribusi pemimpin pada kualitas proses kelompok yang dirasakan oleh para pengikut atau pengamat dari luar.

HASIL SEGERA DAN HASIL TERTUNDA

Beberapa hasil dapat lebih cepat dirasakan daripada hasil yang lainnya. Sebagai contoh, hasil yang cepat dirasakan dari usaha mempengaruhi akan terjadi bbila para pengikut mau melakukan tugas yang diminta oleh pemimpin. Dampak tertunda dari kepemimpinan tergantung pada sebrapa baik para pengikut melaksanakan tugas-tugasnya. dampak pemimpin dapat dipandang sebagai rantai sebab-akibat sejumlah variable, dengan variable antara menjadi penengah variebel yang satu ke yang berikutnya.

Kepemimpinan memiliki dampak segera dan tertunda atas kriteria yang sama. Dua jenis dampak tersebut mungkin konsisten atau tidak konsisten. Jika dampaknya tidak konsisten, hasil segera mungkin sangat berbeda dengan hasil tertunda.

KUNCI DALAM TEORI KEPEMIMPINAN

KARAKTERISTIK PEMIMPIN
  • Ciri (motivasi, kepribadian, nilai )
  • Keyakinan dan optimism 
  • Keterampilan dan keahlian 
  • Perilaku 
  • Integritas dan etika 
  • Taktik pengaruh 
  • Sifat pengikut 

KARAKTERISTIK PENGIKUT
  • Ciri (kebutuhan, nilai, konsep pribadi)
  • Keyakinan dan optimisme
  • Keterampilan dan keahlian 
  • Sifat dari pemimpinnya 
  • Kepercayaan kepada pemimpin 
  • Komitmen dan upaya tugas 
  • Kepuasan terhadap pemimpin dan pekerjaan 

KARAKTERISTIK SITUASI
  • Jenis unit organisasi 
  • Besarnya unit organisasi 
  • Posisi kekuasaan dan wewenang 
  • Struktur dan kerumitan tugas 
  • Kesaling tergantungan tugas 
  • Keadaaan lingkungan yang tidak menentu 
  • Ketergantungan eksternal

PENDEKATAN CIRI

Salah satu pendekatan yang paling awal untuk mempelajari kepemimpinan adalah pendeketan ciri. Pendekatan ini menekankan pada sifat pemimpin seperti kepribadian,motivasi, nilai, dan keterampilan. Yang mendasari pendekatan ini adalah asumsi bahwa beberapa orang mempunyai bakat memimpin yang memiliki ciri tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain.
BEBERAPA JENIS PENDEKATAN :

PENDEKATAN PERILAKU

Pendekatan perilaku adalah perhatian utama dalam mengindentifikasi perlikau kepemimpinan yang efektif.

PENDEKATAN KEKUATAN PENGARUH

Pendekatan kekuatan pengaruh adalah pandangan yang berfokus pada pemimpin dengan asumsi implisit bahwa sebab- akibat adalah satu arah ( pemimpin bertindak dan pengkut memberikan reaksi)

PENDEKATAN SITUASIONAL

Pendekatan situasional adalah berusaha mengindetifikasi aspek situasi yang “melunakkan” hubungan atribut pemimpin (seperti ciri, keterampilan, perilaku) dengan efektivitas kepemimpinan.

PENDEKATAN TERPADU

Pendekatan terpadu adalah teori konsep diri pemimpin yang kharismatik. Pemimpin bersedia memberikan dukungan yang luar biasa dan memberikan pengorbanan pribadi untuk mencapai suatu misi dan tugas kelompok.

LEVEL KONSEPTUALISASI KEPEMIMPINAN

Kepempinan dapat dikonseptualisasikan sebagai :
  1. Proses intra individu 
  2. Proses dyadic
  3. Proses kelompok
  4. Proses organisatoris 

PROSES INTRA INDIVIDUAL

Adalah teori kepempinan yang berfokus pada proses di dalam indvidu tunggal adalah sangat jarang, karena sebagian besar definisi kepemimpinan melibatkan proses pengaruh antar individu.

PROSES DYADIC

Adalah teori pendekatan pada hubungan antara seorang pemimpin dan individu lain yang biasanya merupakan seorang pengkut. Teori dyadic memandang kepemimpinan sebagai proses timbal balik antara pemimpin dengan orang lain.
PROSES KELOMPOK

Proses ini memiliki sifat peran kepemimpinan dalam tugas kelompok dan bagaimana kontribusi pemimpin terhadap efektivitas kelompok.teori efektivitas kelompok memberikan pengetahuan yang penting mengenai proses kepemimpinan dan kriteria yang relecan untuk mengevaluasi efektivitas kepemimpinan.

PROSES ORGANISASI

Pendekatan kelompok memberikan pemahaman yang lebih baik atas efektifitas kepemimpinan daripada pendekatan dyadic atau intra individu, tetapi dengan bebebrapa keterbatasan. Pendekatan organisisasi hanya digunakan untuk system social yang besar dan efektivitasnya tidak dapat dipahami jika fokus dari penelitian itu terbatas hanya pada proses internal kelompok.